Burung diluar sudah saling menyapa dengan kicauan khasnya masing-masing, Rumput masih terasa basah karena embun, mataharipun muncul perlahan dan dinginpun serasa menembus sampai ketulang. Terdengar suara perempuan dan laki-laki bersenda gurau. "Siapa mereka? Dan apa yg mereka laukakan sepagi ini?"Tanyaku dalam hati. Secepatnya kusibak tirai jendela istana untuk menjawab pertanyaan dibenakku. Sontak aku terkaget melihat mereka yg ternyata adalah pasangan usia lanjut yg baru datang dirumah kebun mereka yg posisinya tepat didepan istana. Rambut mereka tak lagi hitam, kulit mereka tak lagi kencang, namun semangat mereka tak kalah hebatnya dengan semangat jiwa muda yg membara.
Segera kuseduh segelas teh, agar bisa memandangi mereka dari beranda istana. kubakar sebatang rokok dan kuputar lagu bergenre ballada lewat telpon genggamku. Disini saya beromantisasi dengan asap rokok dan segelas teh yg mungkin karena dinginnya pagi mennjadikannya semakin nikmat, Sedangkan disana mereka membuatku iri dengan tingkah mereka. Mungkin mereka sengaja membuatku iri dengan tingkah mereka, atau mereka mau memberiku kuliah tentang esensi dari kata romantisme?. Entahlah, saya hanya bisa merasakan perpaduan antara sifat keperkasaan dan kelembutan Tuhan bercampur menjadi satu didepan mata saya.
Persiapan berkebunpun telah selesai, sekarang saatnya Si kakek mencangkul dan Si nenek memetik sayur yg tumbuh subur dikebun mereka. Mereka bekerja seakan "cuek" dan tak saling kenal, tapi pemandangan yg kulihat adalah hati mereka tetap beresonansi seperti dua buah besi yg dibenturkan satu sama lain, bergemerincing. Meskipun sudah dipisahkan tapi suara getaran resonansinya masih tetap terdengar indah.
Matahari sudah meninggi, merekapun menghentikan aktivitas mereka dan segera membersihkan tangan kemudian kembali kerumah kebun yg sederhana itu. Si Nenek mengeluarkan bungkusan yg isinya bekal mereka dari rumah. Menunya hanya nasi dingin, sayur daun ubi, ikan kering, timun segar dari kebun mereka dan cobe'-cobe' (sambal), yg membuat semua yg melihat kejadian itu berkata dalam hati "inilah kemewahan". Pemandangan didepan mataku mengarahkan ingatan dan perasaanku kembali kesaat kakek (alm.), nenek dan saya (wira kecil) berada dirumah kebun menyantap makanan yg sederhana dan pulang membawa sekeranjang hasil kebun dan senyuman. Begitu indah, sehingga makanan "mewah" yg disajikan di restoran serasa tak ada apa-apanya.
![]() |
_________________
Sangkur Wira
_________________
Sumber: Catatan "La Pananrang Massaguni"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar